Kunjungan Wisatawan ke Indonesia Optimis Meningkat

Saturday, September 14th 2019. | Wisata

Menteri Pariwisata, Arief Yahya melangkah tegap memasuki lobby Gedung Sapta Pesona, tempatnya berkantor selama tiga tahun dua bulan terakhir. Tatapannya begitu optimis. Dia yakin bahwa dirinya mampu menggerakkan roda kepariwisataan nasional, sesuai mandat Presiden Joko Widodo di masa tugasnya yakni mendatangkan 20 juta wisman pada tahun 2019 dan 275 pergerakan wisnus.

Kunjungan Wisatawan ke Indonesia Optimis Meningkat

Di ruang kerjanya, Arief tidak pernah berdiam. Meja kayu jati dengan ukuran yang tidak begitu besar serta berbagai peralatan dan beberapa staf yang setia menemaninya menjadi saksi bagaimana Arief Yahya berusaha keras menetapkan sejumlah strategi untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor penggerak ekonomi nasional yang bisa diandalkan. Pulang tengah malam bahkan dini hari pun seringkali dilakukan demi menyelesaikan pekerjaannya sebagai Menteri Pariwisata.

Tak hanya itu, waktunya bersama keluarga di akhir pekan juga kerap dipakai untuk berkunjung ke sejumlah daerah di tanah air untuk mendorong pengembangan pariwisata oleh daerah. Beberapa kali, dia juga terjun langsung melakukan promosi destinasi wisata alam indonesia dan pertemuan dengan sejumlah stakeholders mulai dari pemerintah daerah, pihak swasta, maupun Menteri Pariwisata dan duta besar sejumlah negara. Kelihatannya memang tidak mudah.

Namun baginya, semua itu terbayar lunas ketika pariwisata bisa menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi masyarakat yang bisa diperhitungkan. Dengan demikian, maka pendapatan masyarakat dari sektor pariwisata terus meningkat dan orang yang merasakan manfaatnya semakin banyak. Sejumlah program kerja dirancang dan dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Teringat di awal masa jabatannya, dia merumuskan strategi yang diberi nama 3A, yakni atraksi, aksesibilitas dan amenitas.

Atraksi adalah sesuatu yang bisa menjadi daya pikat, bisa berupa alam, budaya, buatan manusia, maupun gabungan ketiganya. Sedangkan, akses yang nyaman, aman, murah, gampang, dan dapat ditempuh dalam waktu singkat ke sejumlah lokasi pariwisata. Begitu pula dengan amenitas. Sebab, semua kelengkapan wisata, baik hotel, restoran, transportasi lokal, hingga tempat penukaran uang, mudah ditemui. Hampir di semua objek wisata yang hebat, selalu memenuhi standar kriteria 3A itu, yakinnya. Berpatokan pada rumusan tersebut, Arief menggandeng sejumlah pihak, salah satunya melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata yang digelar setiap tiga bulan sekali.

Pada Rakornas Pariwisata yang digelar beberapa waktu lalu, secara khusus membahas mengenai Calendar of Event. Dalam Rakornas dibahas stimulus apa yang perlu diberikan kepada daerah serta bagaimana menetapkan indikator standard penyelenggaraan event berskala internasional dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana menciptakan agar event itu menjadi sustainable yang mencakup elemen: pre event, event, dan pos event. Premiere Event CoE 2018 merupakan 100 event daerah yang telah melalui seleksi oleh tim kurator yang telah dipilih. COE 2018, menjadi salah satu program penting dalam menjadikan sebuah destinasi sebagai lokasi yang memiliki daya tarik pariwisata. Cita-citanya adalah menjadikan destinasi wisata sebagai tujuan berwisata melalui penyelenggaraan event.

Namun demikian, dalam penyelenggaraannya ada sejumlah kendala yang harus dihadapi. Indonesia sudah memiliki sejumlah event Internasional yang terjaga kelangsungannya dan telah berjalan cukup lama. Sebut saja Jakarta Fashion Week, Java Jazz, Jakarta Culinary Festival, Tour de Singkarak, dan lain-lain. Tahun depan setidaknya ada dua event yang akan mendatangkan wisman mencapai jumlah puluhan ribu, yakni Asian Games di Jakarta dan Palembang pada Agustus 2018 dan Pertemuan Bank Dunia-IMF di Bali pada Oktober 2018.

Penyelenggaraan event tahunan dituntut untuk mendatangkan profit, untuk itu event yang dihasilkan harus berkualitas dengan juga menjaga konsistensinya. Salah satu caranya adalah dengan menetapkan kurator event, manajement dan promosi terukur, dan penetapkan penyelenggaraan event tepat waktu. Dalam menentukan kriteria pemilihan event besar, harus yang sudah dikenal secara umum dan melampaui daerahnya. Selain itu, sudah diselenggarakan secara kontinyu (3-4 tahun berturutturut) dan memiliki sebaran daerah (proporsional).

Indikator pemilihan event, harus memiliki ketersediaan informasi online diukur dengan keberadaan website, update konten, dan desain website. Kemudian konsistensi pelaksanaan, diukur dengan jumlah penyelenggaraan, merupakan jumlah total penyelenggaraan event yang sama sejak tahun pertama dilaksanakan hingga saat ini. Mengenai jumlah pengunjung, akan menjadi perhatian khusus berbekal penyelengaraan pada tahun sebelumnya. Event juga harus memiliki pengaruh langsung kepada sosial ekonomi masyarakat dan dapat meningkatkan media value terhadap image daerah.

Lihat di blog ini jika anda ingin tau dimana saja dan seperti apa bagusnya tempat wisata alam yang ada di negara kita Indonesia.